Pusaka Kuliner Yogya: Tak Hanya Gudeg & Bakpia!!! |
|
Bagi anda yang gemar berwisata boga, rasanya kurang lengkap kalau belum menikmati sejumlah pusaka kuliner tradisional Yogyakarta yang sesungguhnya sangat beragam mulai drai jenis, rasa, hingga harga. Nah, sebelum anda sungguh-sungguh menikmatinya, tak ada salahnya menyimak referensi hasil penelusuran Travel Club di berbagai penjuru Yogya berikut ini. Biasanya, kendala wisatawan ketika ingin menyantap hidangan apa saja di Yogya adalah rasa makanannya rata-rata manis. Padahal seabrek makanan ada yang tidak manis sama sekali. Kalaupun ada, unsur manis sangatlah sedikit, contohnya nasi brongkos. Di pusat kota, tepatnya Jl. Gading No. 2 (sebelah Alun-alun Selatan), ada penjual sayur bernama Brongkos yang eksis berjualan sejak tahun 70-an. Umumnya, brongkos terdiri dari kacang tholo (seperti kacang hijau tapi berwarna merah), tahu putih, dan daging sapi/tetelan dipotong kecil-kecil dimasak dengan aneka bumbu (salah satunya adalah kluwek) sehingga warna sayurnya adalah hitam pekat. Rasanya gurih dan tidak manis sama sekali. Lauk tambahannya rata-rata adalah ayam/daging bacem, atau telor ayam (bulat warna coklat). Seporsi brongkos dengan lauk tahu dan telor rata-rata dijual seharga Rp 3.000saja termasuk nasi. Sangat terjangkau bukan untuk sebuah kelezatan yang sudah melegenda? Soto Lenthok, adalah seporsi soto ayam kuah bening lengkap dengan irisan kol, tomat, taoge pendek, daun bawang, suwiran ayam dll. Yang membuatnya khas adalah dalam tiap soto akan ditambahkan irisan/bulatan utuh lenthok, semacam perkedel yang terbuat dari singkong yang direbus, lalu ditumbuk, dicampur bumbu dan digoreng. Rasanya? Buktikan sendiri! Segar, gurih, dan lagi-lagi tidak ada jejak rasa manis. Kalau anda terlanjur jatuh cinta pada makanan lenthok, beli saja di penjual soto beberapa buah atau memesannya secara khusus. Lotek dan gado-gado. Memang benar rata-rata daerah di Indonesia memiliki hidangan bernama gado-gado atau bahkan lotek, tapi coba anda lebih teliti lagi. Pastilah bahan, racikan dan tentu saja rasa berbeda-beda. Demikian pula dengan lotek dan gado-gado khas Jogja. Sate-sate Unik Pernahkah anda menyantap sate sapi manis, dimakan dengan irisan lontong/ketupat disajikan dengan sayur lombok ijo (sayur tempe, cabe hijau dimasak dengan kuah santan)? Kalau belum dan penasaran seperti apa lezatnya, cobalah ke Alun-alun Kota Gede, Yogyakarta. Konon, sate tersebut pertama dijual oleh Bpk. Karyo Semito, sekitar tahun 1948, dengan berkeliling. Kini setiap hari, mulai jam 6 petang sampai malam hari sejumlah pedagang Sate Karang mangkal di sana. Seporsinya cuma Rp 14.000. Sate unik lain dari pusaka kuliner Yogya adalah Sate Jaran dan Tongseng Kopyok. Sate jaran adalah nama lain dari sate (daging) kuda. Sementara Tongseng Kopyok adalah tongseng yang penyajian dagingnya ditusuk seperti sate umumnya, dan disajikan dengan campuran aneka bumbu serta telur yang dikocok. Dagingnya bisa anda pilih mulai dari ayam, sapi sampai daging kelinci. Hidangan unik ini bisa anda temui di kawasan wisata Kaliurang. Atau Sate Klathak di Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul, yakni sate kambing berukuran besar-besar, yang proses memasaknya hanya dibumbui garam dan dibakar setelah ditusuk dengan jeruji sepeda. Panganan Tradisional Legendaris Ingin snack tradisional Yogya selain bakpia patuk? Minimal ada dua jenis yang harus anda coba: jadah tempe/tahu dan geplak Bantul. Jadah adalah semacam uli (di Jakarta/Jawa Barat), tapi dijamin anda tak menyesal mencobanya. Karena jadah Kaliurang memang pulen, lengket, dan tentu saja gurih. Ini tak lepas dari perjuangan Mbah Carik yang dikenal sebagai orang pertama pembuat jadah (Kaliurang) sekitar tahun 1950-an hingga membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX kala itu jatuh hati dan menggemari makanan ini. Harga per prosi (isi 10 pasang) rata-rata hanya Rp 6.000-Rp10.000-an. Geplak warna-warni. Rasanya memang super manis. Tapi tak ada salahnya anda coba. Terbuat dari tepung beras, parutan kelapa, gula, perasa, dan pewarna ini konon dibuat pertama kali oleh Ny. Pawirodinomo tahun 1912. Kalau tak mau eneg, nikmatilah bersama teh atau kopi pahit sembari santai di sore hari. Modif & “Nyeleneh” Anak muda Jogja terkenal dengan kreativitasnya, rasanya itu bukan ungkapan jumawa. Bahasan plesetan yang sudah me-nasional misalnya, lahir dari krativitas anak muda Yogya. Demikian pula dengan dunia kuliner, baik tradisional maupun modifikasi makanan modern. Mau bukti? Ini dia… Di Gunungkidul, ada makanan sejenis rengginang tapi terbuat dari saripati singkong, namanya Pathilo (pati telo = saripati ketela/singkong). Yang lebih nyeleneh lagi Walang Goreng, belalang goreng yang biasanya dijual satu renceng dengan harga sangat murah, di kawasan Jl. Wonosari-Semanu. Dari Kabupaten Sleman, ada belut goreng nan gurih lagi renyah sebagai camilan lauk andalan. Kalau ingin yang unik, anda bisa hunting panganan bernama Cethil, sebuah makanan berbahan tepung beras sebesar biji kelereng. Biasanya dijual di pasar-pasar tradisional sebagai pelengkap sesaji. Tapi bisa juga dipakai sebagai snack biasa. Dan rasanya kurang pas kalau menginap beberapa hari di Kota Yogya tak sempat mencoba Nasi Kucing (sekepal nasi pulen + lauk oseng tempe/oseng usus, dll) seharga Rp. 1.000,–sejak dulu kala harga ini tidak pernah berubah. Yang berubah rata-rata lauk tambahannya: sate telor puyuh, tahu tempe bacem, dll. Nikmati bersama teh (manis) jahe hangat yang mengepul sambil menikmati suasana malam. Anda bisa pilih mulai dari angkringan pinggiran jalan di berbagai sudut kota, atau mau yang bernuansa kafe di Jl. Timoho, semua ada. Bahkan kalau anda kangen ayam goreng fast food, sesekali cobalah KFC ala kaki lima yang disajikan dengan macam-macam lalapan dan sambel tradisional. Biar modifikasi, tapi tetep uenak lho… Hayo… tunggu apalagi? Segeralah pesan tiket ke Yogya. Dan puaskan lidah anda dengan rupa-rupa kuliner khas nan legendaris yang ada di sana! |
15 Jul





Posted by dyno on July 16, 2007 at 1:35 am
Maknyuss…
saya rutin ke Jogja,waktu garap proyek di SariHUsada (SGM) wah rekan dr Jkt terkagum-kagum krn duit makannya utuh banyak…myuraaaah ktanya!
Posted by sylvia on July 7, 2009 at 2:24 pm
butul butul
Posted by sylvia on July 16, 2007 at 5:26 am
emberrr………….
makanya aku tambah ndut ndut neeh, recommended batagor is near Sanata Dharma University, namanya pak SinChan aku punya no hape nya…ntar tak bikinkan link nya ah.
terus kalau buat mie ayam di depan SD ungaran kota baru, whih, mantap men…
Posted by ndah on July 16, 2007 at 6:00 am
duh jadi laper niii ….
kapan niy makan2 miss
Posted by dyno on July 16, 2007 at 6:16 am
weks,
jadi ngerti mbak ulul gendut….
Posted by sylvia on July 16, 2007 at 10:29 am
whe ehehehehehe belum tahu diya, eating is my middle name, n my sure name is BIG, wheheheheeheh
Posted by sylvia on July 16, 2007 at 10:32 am
ndaaaaaaaaaaah ente kagak balas2 neh, besok ibu2 weblog genk ijo mo pada arisan dimane men
Posted by ndah on July 17, 2007 at 3:11 am
ya elah miss lul dah ge jawab di mp, liat blog ekkeh doong mak …
Posted by sylvia on July 17, 2007 at 8:32 am
iya neh, di taman pintar?? gedubrak!!, kok aneh banget tempat pertemuannya yak? heheheheheh
Posted by ndah on July 17, 2007 at 9:45 am
terasa aneh yak
hmm tempatnya sih sebenernya tersereah yang dapet arisan
huehueuhe mo dirumahnya ndak papa, mo di tempat umum ok, mo di tempat makan juga gak nolak
begicyu lho miss
Posted by dyno on July 18, 2007 at 2:47 am
anytime and everywhere deh…i’m sure all women organization in indonesia have to arisan…and gossip…heheh no lah ya…i hope
Posted by sylvia on July 18, 2007 at 5:43 am
eh, kagak ada gossip2 an …nYang Ada maKan2, MasaK2, fAshioN sHow, Lomba masAk, sampe LomBa ReNang hehehehee
Posted by nanik on September 30, 2007 at 11:04 am
mauuuuuuuuu…pengeeeennnnn…
ajak akyu dong mbak berwisata kuliner di yogya. ntar gantian mbak aku ajakin cicip2 makanan di bandung. berminat???
Posted by sylvia on October 1, 2007 at 4:25 pm
@nanix
halo nik, hyuuuk, as eating is my middle name, why not? hehehhe, marrri kita nyam-nyam
Posted by handoko on November 19, 2008 at 4:58 pm
hmmmm, asyik lho semua kuliner di jogja
ingin berburu kuliner yg khas Jogja?
lihat aja di http://www.gudeghjwakidi.com
Posted by Roy on December 3, 2008 at 7:42 am
Tiap hari Jogja – Wnsari, kemaren baru nemu.. warung pecel yg sambalnya wuihh,, hot n mantap.. gak kaya kebanyakan pecel di jogja.. pokoknya dijamin rasa pecel ndeso bgt.. harga 3,000an tempatnya di jalan wnsari km.7 mantup, timur kacamata Eropa optik kalo gak salah.. biasa buka jam 7 pagi pas gw lewat mo ke kantor, sedia juga sayur lombok ijo juga ndeso bgt rasanya.. mantap.. tempatnya gak gede2 bgt, tp kalo cm naik motor sih ok aja parkirnya.. silahkan coba deh…
Posted by Gogon on January 5, 2009 at 3:33 am
Murah recomend..
nasi pecel babat, iso sapi, garangasem, soto ayam. di mantup, jalan wonosari km.7 sblh timur eropa optik. mantap…
Posted by sylvia on July 7, 2009 at 2:24 pm
coba aaah
Posted by cim2 on January 9, 2009 at 3:49 pm
tambahan cap jae/bakmi jawa depan hotel rajadani gondomanan eunak e pool tur murah tapi ngantrine…suwi tenan..dijamin euanak…
Posted by sylvia on July 7, 2009 at 2:25 pm
sebenernya jangan2 yang bikin enak karena antri luamaaa jadi kite lapaaar jadi enak deh makan apa aja heheh
Posted by dedy on February 23, 2009 at 4:15 am
enak banget seh tp
bikin kantong bolong alias bangkrut
Posted by sylvia on July 7, 2009 at 2:22 pm
ah masaa, kan mureh mureeeee
Posted by Ryan on June 1, 2009 at 7:47 am
Td pagi diajak temen makan GUDEG di jl.Malioboro, tepatnya didepan HONDA ASTRA MALIOBORO, murahnya masa peke nasi gudeg pake telor bebek harganya cuma 5000, rasanya maknyus lg…
Posted by sylvia on July 7, 2009 at 2:23 pm
tuh kan murreeeeh
Posted by utama on June 18, 2009 at 9:05 am
Kok bisa pake nama serendepity?
Posted by sylvia on July 7, 2009 at 2:22 pm
suka aja…..
Posted by Ann on June 23, 2009 at 9:58 am
waaaaaaaaah.. pengen ke Yogya nich.. ^^
Posted by sylvia on July 7, 2009 at 2:20 pm
ayooo donnggg……mumpung banyak tanggal merahnya kan kalendernya
Posted by Purnomo on June 27, 2009 at 4:26 pm
Kalau aneka es, di Yogya dimana ya
Maturnuwun
Posted by sylvia on July 7, 2009 at 2:21 pm
wah banyak tuu…..di Amplaz, di es eny, di Amplaz lagi….heheheh,
Posted by Sigit purwanto on July 7, 2009 at 9:09 am
Weeh,Jd kpgen cepet plg kej0gja nich.
M0 Nyoba’in Brongkozx Aah.
Posted by sylvia on July 7, 2009 at 2:20 pm
yah ayo ayo ke yogya, mumpung liburrrrr, jangan lupa ke Sunday Morning UGM ya ya yaaa
Posted by Gunawan on July 8, 2009 at 4:42 am
Kuliner di Yogya ….
Nggak lengkap kalau nggak mampir ke Marem Pondok Seafood, di Jl.Wonosari Km 7 Wiyoro Lor 26B Yogya. Resto ala gazebo dengan view persawahan menyajikan Spesial Udang Hotplate, masakannya wuuenak banget, ada Udang Galah Marem, Udang Galah Lada Hitam, sup seafood tahu jepang, dan ada menu ikan segar, Gurame Bakar Kaleroso, Gurame Tim Hioko. Mampir aja, dijamin maknyusss dan gak mahal lagi.
Posted by rina on July 9, 2009 at 4:31 pm
mmmh..brongkos di pinggir pasar di bwh jembatan turi pasti lbh enak lho..pak bondan aja maknyus..walau ga mure mure bgt ..